Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Mengapa Arloji Dipakai di Tangan Kiri?



Arloji adalah inovasi faktor praktis yang sampai sekarang tetap digemari oleh kalangan orang super sibuk. Meskipun di dalam ponsel sudah tercantum jam, tapi tetap saja arloji lebih praktis dipakai. Tapi kenapa tradisi arloji dipakai di tangan kiri? Sebenarnya pertanyaan ini dapat dijawab dengan mudah. Sederhana saja, arloji disetting untuk dipakai di tangan kiri karena tangan itulah yang paling tidak sering dipakai. Jika kita menulis, menggunting, memegang, dan menggunakan mesin sesuatu dengan tangan yang sudah ada porsinya (kanan). Maka tangan kirilah yang masih menganggur.
Mungkin satu hal yang akan membuat anda bingung. Arloji pertama kali tidak ditemukan di Indonesia, melainkan di Swiss. Sampai sekarang saya belum bisa menjelaskan bagaimana cara mereka melakukan banyak hal sembari ada arloji di tangan kiri mereka?

Mengapa Jika Memesan Buku Cek dari Bank, Lembar Cek Pertama Diberi Nomor “101”, Bukannya “1”?


Saat kita memesan buku cek dari bank, biasanya bank memberikan satu bendel kertas cek. Biasanya terdiri dari 50 hingga 100 lembar. Tapi, ketika kita menerima buku cek itu dan membuka lembar pertama, nomor yang tertera di buku cek tersebut tidak berawal dari nomor ‘1’ atau ‘01’ atau ‘001’. Padahal, lembar cek itu adalah termasuk lembar cek pertama yang kita pesan.
Tradisi ini diadopsi dari beberapa bank di Eropa dan Amerika. Persaingan bank disana sangat besar. Itulah yang membuat mereka bersaing dalam segala hal, termasuk dalam penomoran lembar cek. Alasannya sebenarnya sangat lucu, karena mereka tidak mau para nasabahnya mengira bahwa itu adalah buku cek pertama yang dikeluarkan bank itu.
Persepsi para nasabah terhadap kredibilitas bank sangat berpengaruh terhadap seberapa besar mereka menabung, deposit, atau meminjam uang. Karena itulah lembar cek pertama di buku cek itu bernomor ‘11’ atau 101’. Beberapa perusahaan di Amerika Selatan malah memberikan nomor ‘1001’ pada lembar cek pertama yang dipesan oleh nasabah

Mengapa Banyak Saklar Lampu Diletakkan 30 cm Diatas Gagang Pintu?


Mungkin analisa yang paling bagus untuk pertanyaan ini adalah “agar saklar lampu nyaman ditekan karena sejajar dengan tinggi badan pemilik rumah.” Tapi apakah ketentuan ini juga diterapkan di semua tempat di dunia. Bandingkan saja tinggi bada orang Asia dengan Orang Amerika.
Saklar lampu yang diletakkan 30 cm diatas gagang pintu sebenarnya hanyalah ukuran untuk orang Amerika Selatan dan Eropa. Saklar dibuat dengan ukuran letak seperti itu memang agar mudah digapai. Tapi aturan ini memberikan efek bagi banyak developer-developer di dunia. Di Jepang misalnya, para pengembang hotel menaruh saklar lampu kamar hotel lebih tinggi dari standart tinggi orang Jepang. Hal ini dimaksudkan agar memberikan kenyamanan bagi calon turis yang lebih tinggi dari mereka.
Di indonesia, aturan pemasangan saklar seperti itu sudah tidak berlaku. Saya tidak tahu mengapa. Mungkin saja karena memang developer-developer Indonesia sudah tidak menghiraukan aturan 30 cm itu. Oia.. satu lagi, di negara-negara Asia Tenggara lainnya, aturan peletakan saklar berubah menjadi 45 cm diatas gagang pintu. Kalau ini, saya sudah tidak tahu harus jawab apa.

Mengapa Ada Istilah yang Mengatakan “Langkahkan Kaki Kanan Jika Akan Menaiki Bus”?


Istilah "langkahkan kaki kanan jika akan naik bus" seringkali tidak digubris orang-orang yang mendengarnya. Buat apa memikirkan kaki kanan atau kaki kiri yang lebih dulu kita langkahkan jika naik bus, tidak penting. Mungkin ada benarnya pendapat orang-orang akan hal ini. Tidak mungkin ada standar pasti untuk menentukan kaki mana yang lebih dahulu naik ke bus. Kaki kanan atau kaki kiri sama saja.
Mungkin para orang tua mengatakan tersebut ‘agar’ anak-anak mereka selamat di perjalanan. Agar anak-anak mereka juga mendahulukan hal yang baik (kaki kanan) untuk melangkah. Tapi istilah konyol ini tidak begitu penting untuk digubris oleh orang-orang yang sudah terlambat masuk kantor, apalagi anak-anak yang terlambat masuk sekolah. Saya juga setuju bahwa kaki kanan tidak akan mempengaruhi jalan kita. Apalagi di dunia yang serba modern ini. Kaki kanan atau kiri sama saja. Kaki mana saja boleh.
Sebenarnya ada hal lain yang perlu kita ketahui. Istilah ini berasal dari para orang tua (juga) yang ada di Eropa, tempat pertama kali bus ada. Di Eropa, bus yang berjalan di sebelah kanan sudah biasa berhenti di badan kanan jalan untuk mengambil dan menurunkan. Tak jarang bus yang berhenti sebentar untuk hanya mengambil penumpang dan langsung tancap gas tanpa mengetahui apakah penumpangnya sudah benar-benar berangkat atau belum. Inilah yang membuat para orang tua sering menasihai anak-anak mereka agar menaikkan kaki kanan terlebih dahulu ketika anak naik bus. Tujuannya agar ketika bus tancap gas dengan sembrono, sang anak tidak perlu jatuh karena salah kuda-kuda.
Mungkin kata “kanan” tidak berlaku di Indonesia karena semua jenis kendaraan umum berjalan di sebelah kiri. Sebaiknya diganti saja menjadi “Langkahkan kaki kiri jika akan menaiki bus” atau “ketika bus berhenti, segeralah lompat kedalamnya”

Mengapa Dalam Permainan Bowling 3 Kali Strike Berurutan Disebut “Turkey”?


Kita sering kali mendengar para penonton pertandingan bowling berteriak Turkey ketika seseorang berhasil melakukan 3 kali strike berurutan. Ya.. tiga strike dalam pertandingan bowling disebut Turkey. Mungkin di Indonesia kita jarang mendengarnya. Tapi kebanyakan (hampir semua) pertandingan bowling di dunia memiliki istilah tersebut.
Kalau lihat sejarah masa lalu. Permainan bowling tidak ada hubungannya dengan negara Turki. Bagaimana dengan arti lain dari Turkey? Turkey juga berarti kalkun. Dan saya tidak banyak mengetahui mengapa binatang tersebut diberi nama yang sama dengan sebuah negara yang tak ada hubungannya sama sekali dengan binatang tersebut? (masih dalam pencarian).
Mark Gerberich, direktur operasional The Professional Bowlers Assosiation, menyampaikan gagasan yang masuk akal tentang istilah ini:
“Dahulu saat perayaan Natal dan Thanksgiving, diadakan pertandingan (semacam bowling tua) yang diwarnai dengan taruhan. Ketika seseorang berhasil melempar bola dan mengenai pin-pin yang besar, dia akan mendapatkan hadiah seekor kalkun hidup (turkey) sebagai reward akan pencapaiannya.”

Mengapa Nilai ‘E’ Menghilang Dari Skala Penilaian di Sekolah-Sekolah di Amerika?

Sistem penilaian di Amerika sangat berbeda dengan sistem penilaian seperti yang kita alami. Dahulu sistem penilaian di Amerika terdiri dari penilaian huruf. Di Endicott, Amerika nilai A,B,C,D,F merupakan nilai hasil prestasi mereka. Sedangkan nilai E adalah semacam komentar atas usaha seorang anak yang berusaha memperbaiki nilainya. E berarti Excellent.
Hal ini menjadikan para siswa dengan mudah mengganti dari F menuju E. Dahulu, sebelum ada sistem penilaian menggunakan komputer, satu goresan saja sudah cukup untuk membuat orang tua mereka tersenyum.
Di beberapa tempat di Amerika, nilai F berarti tidak lulus, sedangkan nilai E adalah sebuah peringatan bagi murid yang nilainya anjlok di semester pertama. Prosedurnya begini, jika seorang anak mendapatkan nilai yang setara dengan nilai ‘tak lulus’ ketika semester pertama, dia akan diberi nilai E agar dia berusaha untuk merubah nilai-nilainya. Jika semester kedua dia bisa memperbaiki nilainya, mungkin sang guru akan memberinya D atau bahkan C. Bagi murid yang tidak berhasil memperbaiki, dia akan mendapatkan nilai F (tidak boleh ada nilai E di akhir semester kedua). Tapi hal ini membuat murid-murid yang mendapatkan nilai E telah merasa bahwa dirinya sudah tak layak lulus. “jadi jika aku sudah dinilai tak pantas lulus, buat apa aku berusaha?” Jadi, para guru yang iba memberikan nilai D (di semester pertama) agar sang murid memiliki semangat untuk terus memperbaiki nilainya.
Hal ini berlanjut hingga pada akhirnya terjadi banyak kasus (gara-gara keteledoran si murid) bahwa sang murid mendapatkan nilai F (tidak lulus) di semester kedua tanpa diberi nilai E (peringatan) di semester pertama. Para orang tua merasa tidak senang dengan keputusan ini. Kemudian, orang tua diberi penekanan bahwa nilai D adalah nilai yang terendah yang bisa didapatkan oleh seorang murid dan harus diperbaiki jika tidak ingin mendapatkan nilai F di akhir semester kedua.
Di beberapa wilayah di Amerika, beberapa sekolah memberikan sistem penilaian berbeda-beda. Seorang mantan Elementary school di Amerika bagian barat, Pamela L. Gibson menyebutkan bahwa dulu sekolah SDnya memberikan penilaian sebagai berikut:

E – Excellent (sempurna)
VG – Very Good (sangat baik)
S – Satisfactory (memuaskan)
P – Poor (buruk)
U – Unsatisfactory (tidak memuaskan)

Pamela mengatakan “Sistem penilaian A-F dihilangkan di sekolah itu agar tidak membingungkan murid dan orang tua akan kebingungan antara nilai E sebagai ancaman tidak lulus atau nilai E yang berarti sempurna.
Charles Northrop memberikan penjelasan lain tentang masa lalunya di sekolahnya. Dia mengirimkan rapor tahun 1965-1966 miliknya kepada sebuah acara di Amerika. Rapor ini menunjukkan sistem penilaian yang tidak biasa:

E – prestasi yang unggul
S+ – kemajuan yang memuaskan
S- – kemajuan yang tidak sesuai harapan
N – perlu perbaikan

J. Orville Smith mengungguli pendapat Charles. Smith bersekolah dasar di Portsmouth, Virginia dari 1918-1926, dimana saat itu skala penilaian yang diberikan berupa kode:

E – Excellent (sempurna)
VG – Very Good (sangat baik)
G – Good (baik)
F – Fair (cukup)
P – Poor (buruk)
VP – Very Poor (sangat buruk)

Di beberapa wilayah kecil di Amerika Utara, ada skala penilaian yang berupa A-E (tanpa F). Hal ini malah membuat para siswa dengan mudahnya meyakinkan orang tua mereka bahwa nilai yang mereka dapat (nilai E) adalah sempurna. Banyak juga orang tua yang tertipu. Dan sampai sekarang, sudah banyak sekolah-sekolah yang mencari sistem penilaian sendiri demi mengurangi risiko penipuan anak terhadap orang tua mereka.
Bagaimana dengan Indonesia. Jika kita bandingkan, sistem pendidikan Indonesia jauh dibawah Amerika. Tetapi saya cukup puas dengan skala penilaian dari 0 -100.

Mengapa Disebut “Hamburger” Padahal Tidak Berisi Daging Ham?


Hamburger terdengar seperti gabungan dua kata, ‘ham’ dan ‘burger’. Jadi ketika orang mengingat hamburger, yang ada di pikiran mereka pasti sandwich tebal yang berisi daging sapi tipis (ham). Tapi tidak tahukan kalian kalau di dalam hamburger manapun di dunia ini, sangat jarang (bahkan hampir tidak pernah) orang menaruh daging ham di tengah-tengahnya. Yang ada hanya daging sapi yang digiling halus dan dibentuk menyerupai lempengan (tebal). Bahkan banyak hamburger yang tidak berisi daging. Biasanya diisi keju atau sayuran (hamburger untuk vegetarian).
Lalu darimana kata hamburger berasal? Kenapa meskipun tidak ada daging ham di dalamnya tetap dinamakan hamburger? Bukankah di Indonesia sudah banyak produk yang tidak menggunakan daging dan hanya menggunakan nama “burger” saja (burger keju, burger ikan, spinach -bayam- burger)?
Makanan yang bersifat “roti dan daging” selalu berasal dari Eropa. Sandwich dan pizza berasal dari Eropa, termasuk hamburger. Hamburger berasal dari Jerman. Dahulu orang-orang hanya mengenal sandwich (roti lapis daging). Lalu di beberapa kelompok orang di kota Hamburg membuat suatu inovasi dari sandwich, yaitu menaruh roti tebal berwarna kecoklatan sebagai pengganti roti tawar. Makanan tersebut sangat cepat digemari masyarakat karena bentuknya yang tebal, tidak seperti sandwich. Isi dari hamburger pada awalnya daging giling, bahkan saat merambah ke seluruh Eropa. Tidak ada sedikitpun bentuk daging tipis yang ditaruh di dalamnya.
Untuk menghormati sekelompok masyarakat di Hamburg (yang telah membuat pamor sandwich sempat menghilang dari bumi selama beberapa waktu), nama hamburger masih dipakai sampai sekarang demi menghormati orang-orang Hamburg. Indonesia? Inilah akibat dari kesoktahuan pengusaha-pengusaha Indonesia. Belajar asal-mula ceritanya dulu, baru bangun franchise-nya.

Mengapa Orang Cina Memakai Sumpit?

Cina terkenal dengan tradisi keindahan di meja makan. Seni minum teh, seni penggunaan sumpit, serta keindahan Geisha yang menjadi pemanis di meja makan. Akan tetapi asal mula penggunaan sumpit bukanlah faktor keindahan, melainkan pertimbangan praktis.
Pada zaman sebelum dinasti Chou (sekitar satu abad sebelum Masehi. Belum ada jenis masakan dengan cara ditumis di Cina. Rata-rata masakan Cina dimasak dengan kuali besar dengan potongan daging yang amat besar pula. Terjadilah krisis kayu yang amat besar di negara ini. Hal ini disebabkan karena semakin lama kayu semakin banyak ditebang untuk memasak makanan dengan jumlah yang berlipat setiap tahunnya.
Seorang koki kerajaan menemukan solusi, bukan membuat sumpit melainkan mencari cara agar memasak jadi lebih cepat. Menumis adalah solusinya. Dengan dipotong-potong sebelum dimasak, daging dan sayuran akan lebih cepat matang. Hal ini memberikan efek positif bagi pertumbuhan dan penebangan kayu di zaman itu. Akan tetapi, pada zaman dinasti Chou sangat jarang ada meja makan (seperti sekarang) bergaya Cina, bahkan sangat jarang ada meja di setiap rumah-rumah penduduk. Jadi diperlukan alat masak yang hanya menghabiskan fungsi satu tangan saja dikarenakan tangan yang lain harus memegang mangkuk.
Dari sinilah sumpit mulai diperkenalkan. Dua batang alat makan tersebut mampu membantu orang-orang untuk mengambil potongan makanan yang kecil. Kenapa tidak menggunakan garpu? Pada zaman dinasti Chou belum ada kecanggihan teknologi untuk membuat alat makan yang berbahan stainles steel. Semua terbuat dari kayu. Lalu apakah sumpit juga tidak mengurangi jumlah kayu? Tidak, karena pada awalnya sumpit tidak terbuat dari kayu melainkan dari gading gajah.

Mengapa Jam Kerja Kantor Disebut "Nine to Five" Padahal Karyawan Rata-rata Masuk Pukul 08.00 Pagi?

Jam kerja masuk kantor pada umumnya dimulai pukul 08.00 pagi. Lazimnya pekerja kantor bekerja selama 8 jam, yang berarti jam kerja mereka akan berakhir pukul 16.00 tepatnya di sore hari. Tapi kenapa jam kerja kantor disebut sebagai nine to five (jam 9 sampai jam 5)?
Sebutan nine to five berawal dari kebiasaan orang British dalam menyebut jam kerja di Amerika. Ya.. jam kerja di Amerika memang dimulai dari pukul 09.00 (atau biasa mereka sebut 9 a.m), karena cuaca jam 9 masih terasa sejuk dan masih bisa dikategorikan "pagi" bagi mereka. Pengaturan jam kerja ini sangat relevan mengingat jam sekolah anak-anak mereka dimulai pukul 8 a.m alias satu jam sebelum para orang tua berangkat ke kantor. Akhirnya para orang tua memiliki cukup waktu untuk mengantarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah sebelum akhirnya mereka go ke kantor.
Masalahnya, kenapa "Nine to Five" bisa berubah menjadi pukul 8-16 di Indonesia? Jawabannya sederhana, di Indonesia kita tidak akan pernah menemui udara sejuk sebagai penyemangat kerja pada pukul 09.00, terlalu siang dan terlalu panas. Jiwa 'pegawai' di Indonesia dimulai ketika Jepang merekrut banyak lelaki sebagai tentara (dulu disebut Heiho), mereka diharuskan bangun sebelum matahari terbit. 'Pendidikan' ini menjadi satu hal yang positif bagi masyarakat Indonesia hingga sekarang. Bangun pagi menjadi hal yang positif untuk lebih menyemangati hidup.
Tapi saya rasa akan muncul pertanyaan baru, "Mengapa Bangsa Indonesia yang Bangun Lebih Pagi dari bangsa Amerika Tidak Lebih Maju dari Mereka?"